Husnul Khaatimah - Kematian Yang Baik - Amalan Hati


Meninggal dengan Husnul Khaatimah adalah cita-cita semua muslim. Karena husnul khaatimah atau meninggal dalam kebaikan akan menentukan nasib kehidupan di alam barzakh dan di akhirat kelak. Yang husnul khatimah akan mendapati kebahagiaan, dan yang suu'ul khaatimah akan mendapati kesengsaraan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya”. [HR Bukhari]

Kita tidak tahu bagaimana keadaan kita ketika akan meninggal kelak. Semoga Allah mengasihani kita dengan memberi husnul khatimah. Rasulullah pernah bercerita dalam sebuah hadits tentang orang yang dalam kehidupan sehari-harinya penuh dengan amalan ahli neraka hingga jaraknya dengan neraka tinggal sehasta, namun di akhir hidupnya ia melakukan amal shalih sehingga ia akhirnya masuk surga. dan ada juga yang dalam kehidupan sehari-harinya melakukan amal shalih, namun di akhir hidup saat menjelang kematiannya ia beramal dengan amalan ahli neraka maka ia akhirnya masuk neraka.

Ah, begitu butuhnya kita dengan belas kasih Allah saat-saat menjelang kematian, agar Allah memudahkan kita melakukan amal shalih. Yang aku pernah dengar penjelasan ulama, mereka yang sehari-hari beramal baik ternyata akhir hidupnya beramal buruk dan masuk neraka adalah mereka yang amalannya tidak ikhlas karena Allah, tidak membekas dihatinya dan mereka bermaksiat ketika bersendirian.

Alangkah besarnya pengaruh apa yang ada didalam hati.

Terkisah juga, sahabat nabi yang ketika hidupnya sudah diceritakan nabi bahwa ia akan menjadi penghuni surga. Para sahabat lainnya pun penasaran dengan amalan sahabat yang dijamin surga ini. Salah seorang mereka menginap dirumahnya selama 3 hari, namun ia tidak menemukan amalan-amalan spesial melebihi amalan yang biasa dilakukan sahabat nabi lainnya. Hingga ketika ia akan pulang, sahabat yang dijamin surga ini memberitahu rahasianya... "aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.’", ungkapnya. Masya Allah... Amalan Hati.


Benarkah Kita Butuh Rasa Sakit?

Sepuluh tahun aku bergelut di dunia bisnis online, aku merasakan di 8 tahun awal adalah masa-masa mudahnya dalam menghasilkan uang dari internet. Dengan izin dan rezeki dari Allah, dari bisnis online aku pertama kali membeli sepeda motor secara cash saat masih kuliah. Dengan rezeki dan izin dari Allah, dari bisnis online aku beranikan diri untuk menikah, untuk membangun rumah kecil kami dan hingga saat ini. Alhamdulillah.

Namun di dua tahun terakhir ini aku merasa kemudahan itu menjadi sulit. Aku sadar sepenuhnya hal itu terjadi karena kelalaianku dalam mengatur aset digitalku. Juga karena semakin berubah dan berkembangnya dunia bisnis online.

Lama terbuai dengan kemudahan di zona nyaman, belakangan baru aku tersadar bahwa bertahun-tahun di zona nyaman membuatku tak berkembang bahkan semakin lemah.

Sekarang aku mendapat sedikit kesulitan dan akupun baru tahu nikmatnya kemudahan yang dahulu. Betul yang dikatakan ahli hikmah, engkau harus melihat mendung yang kelam untuk bisa melihat pelangi kemudian.

Kesulitan akan menempa jiwa agar tidak menjadi jiwa yang lemah. Mungkin ibarat olahraga terhadap tubuh, ibarat latihan untuk para atlit. Dengan banyaknya cobaan/kesulitan yang berhasil dilalui akan membuat mental dan jiwa semakin kuat. Tidak adanya cobaan akan membuat jiwa lemah.

Bahkan untuk mendapatkan keindahan di akhirat, engkau juga harus mau menerima cobaan dan tantangan di dunia ini. Semakin soleh dirimu maka cobaan akan semakin berat, bukankah cobaan yang paling berat itu ada pada para Nabi dan Rasul?
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Sa’d bin Abî Waqqâsh Radhiyallahu anhu :
“Ya Rasûlullâh! Siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya. [HR. at-Tirmidzi no. 2398].

Untuk melihat keindahan di akhirat, engkau harus mau menerima kesulitan dalam melakukan ketaatan di dunia. Engkau harus melatih jiwa untuk taat. Dan lari dari kesulitan iadah didunia artinya membawa diri kepada kegelapan di akhirat.

Bahkan hidayah Allah salah satunya adalah milik mereka yang mau melatih jiwanya untuk taat.
Allah berfirman :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan”. [QS al-‘Ankabuut: 69].

Sungguh kabar gembira, kesulitan tidak akan selamanya, karena hidup di dunia pun tak selamanya. Bahkan dalam setiap kesulitan sudah disediakan kemudahan.
Firman Allah:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)

Bagaimana Cara Membedakan Antara Ujian dan Azab dari Allah?


Pertanyaan mirip dengan ini pernah ditanyakan ke Ulama di zaman ini yakni Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Beliau ditanya Bagaimana cara membedakan sesuatu yang menimpa kita apakah itu Azab ataukah Cobaan dari Allah?

Maka Jawaban Syaikh Abdul Aziz bin Baz adalah:

“Allah menguji para hamba-Nya dengan kesenangan dan penderitaan, kesempitan dan kelapangan.
Allah terkadang mengujinya untuk mengangkat derajat, meninggikan nama, dan melipatgandakan pahala mereka, seperti yang Ia lakukan terhadap para nabi, rasul, dan hamba-Nya yang saleh. Hal ini sebagaimana termuat dalam riwayat dari jalan Mush’ab bin Sa’d bin Abi Waqqash, dari ayahnya Sa’d bin Abi Waqqash Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa manusia yang berat cobaannya?” 

Beliau n bersabda:
أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ
“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian yang semisal mereka, kemudian yang semisal.” (HR. al-Imam al-Hakim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan yang lain)

Terkadang, Allah menimpakan haitu karena kemaksiatan dan dosa sehingga musibah itu menjadi hukuman yang disegerakan. Haini sebagaimana firman Allah :

“(Dan) apa saja musibah yang menimpamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu).” (asy-Syura: 30)

Keumuman manusia menyepelekan dan tidak menunaikan kewajiban. Jadi, musibah apa pun yang menimpa adalah karena dosa dan sikap mereka menyepelekan perintah Allah.

Sebab itu, apabila seorang hamba yang saleh diuji dengan sakit atau semisalnya, hal ini sejenis dengan ujian yang diberikan kepada para nabi dan rasul. Tujuannya adalah meninggikan derajat, membesarkan pahala, dan agar menjadi teladan bagi yang lain dalam kesabaran dan keikhlasan.

Kesimpulannya:
1. Terkadang cobaan itu untuk meninggikan derajat dan memperbesar pahala.
Hal ini sebagaimana yang telah Allah perbuat terhadap para nabi dan sebagian orang pilihan (musibah sebagai cobaan).

2. Cobaan tersebut kadang bermaksud untuk menghapuskan dosa-dosa (musibah sebagai kaffarah), sebagaimana firman Allah :
“Barang siapa yang mengerjakan keburukan niscaya akan diberi balasan akibat keburukan itu.” (an-Nisa’: 123)

Demikian juga sabda Nabi:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tiadalah seorang muslim yang ditimpa musibah dalam bentuk kelelahan, sakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, dan kecemasan, melainkan Allah menghapuskan segala kesalahan dan dosanya dengan musibah itu, hingga duri yang menusuknya juga sebagai penghapus dosa.” (HR. al-Bukhari, no. 5318)

Demikian pula sabda beliau:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرا يُصِبْ مِنْهُ
“Barang siapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah menimpakan musibah kepadanya.”(HR. al-Bukhari, no. 5321)

3. Terkadang, azab itu disegerakan karena kemaksiatan dan tidak segeranya bertaubat (musibah sebagai hukuman/kemurkaan).

Hal ini sebagaimana dalam hadits Rasulullah:
إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Apabila Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, disegerakanlah hukuman baginya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan pada hamba-Nya, Allah akan menahan dia lantaran dosa-dosanya hingga (dibalas) secara sempurna kelak pada hari kiamat.” (HR. at-Tirmidzi, no. 2396) 

Apakah musibah itu sebagai ujian untuk meninggikan derajat hamba? Ataukah musibah sebagai siksa (azab)? Atau hukuman yang disegerakan di dunia? Ketiga kemungkinan itu bisa ada. Sehingga dengan mengetahui hikmah musibah tersebut seharusnya membuat kita giat dan berusaha keras untuk bersabar serta meraih pahala lewat ujian.

(al-‘AdzabuAdna, karya Muhammad bin ‘Abdillah as-Suhaim).
Wallahu a’lam

Ingin mengirim pertanyaan seputar Agama? Silahkan posting di Profil Facebook Tanya Ustadz


Apakah Berdosa Melawan Orangtua yang Bersalah?


Pertanyaan yang masuk ke akun Facebook Tanya Ustadz kali ini tentang "Apakah Berdosa Melawan Orangtua yang Bersalah?"

Berikut adalah jawaban kami:

Dalam pertanyaan ini masih perlu diperinci, apa sebenarnya yang dimaksud oleh penanya dengan kata "Orangtua yang Bersalah". Bisa jadi karena berbeda persepsi dan penilaian, atau terbawa emosi maka si penanya (Anak) menganggap apa yang dilakukan oleh orangtuanya tersebut merupakan suatu kesalahan. Namun bisa jadi ternyata hal tersebut bukanlah suatu kesalahan jika dipandang dari sisi yang lebih adil.

Sebagai contoh, orangtua yang memiliki anak diatas usia 10 tahun yang tidak mau melaksanakan sholat, maka orangtua wajib memukul (yang mendidik) anak tersebut dan menyuruh shalat. Bisa jadi si anak pada saat ini beranggapan bahwa orangtuanya melakukan suatu kesalahan karena memukulnya, padahal itu adalah kebaikan. Bahkan jika orangtua tidak memukul maka orangtua tersebut akan terkena dosa.

Nah, contoh-contoh seperti inilah yang terkadang tidak serta-merta difahami oleh seorang anak, namun setelah ia memikirkan dengan tenang maka pandangan tentang orangtuanya berbuat salah akan berubah.

Untuk itu kepada penanya agar lebih adil dalam menentukan sikap orangtuanya.

Dan anggaplah (Mungkin) orangtua tersebut benar-benar berbuat suatu kesalahan. Maka tidak pantas untuk kita melawan hanya karena kesalahan tersebut. Karena jika dibandingkan dengan pengorbanan yang mereka lakukan untuk kita sejak mengandung, melahirkan, membiayai dan membesarkan hingga saat ini, maka kesalah tersebut tidaklah sepadan. Kesalahan tersebut tidaklah dapat menutup dan menghapus semua kebaikan-kebaikan mereka.

Kewajiban kita hanyalah dengan mengingatkan orangtua kita tersebut bahwa mereka sedang berbuat kesalahan. Namun cara mengingatkan harus dengan cara yang lemah lembut dan sopan, karena kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada orangtua.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kita di dalam Al qur’an, agar berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua :

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia, dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah mereka keduanya, sebagaimana keduanya telah menyayangi aku waktu kecil.'” (Al Israa’: 23-24)

Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, kepada kaum kerabat, kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, kepada tetangga yang dekat, tetangga yang jauh teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan dirinya.” (An Nisaa’: 36)

Jika kita perhatikan, berbuat baik kepada kedua orang tua seperti yang tercantum pada ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua menduduki peringkat kedua setelah mentauhidkan (mengesakan) Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beribadah.

Ada hadits yang sangat indah yang mungkin bisa mewakili jawaban ini, yakni:


عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال إن أبي اجتاح مالي. فقال:( أنت ومالك لأبيك ) وقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( إن أولادكم من أطيب كسبكم . فكلوا من أموالهم )
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakek ayahnya yaitu Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ash, ada seorang yang menemui Nabi lalu mengatakan, “Sesungguhnya ayahku itu mengambil semua hartaku.” Nabishalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau dan semua hartamu adalah milik ayahmu.” Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya anak-anak kalian adalah termasuk jerih payah kalian yang paling berharga. Makanlah sebagian harta mereka.” (HR. Ibnu Majah, no. 2292, dinilai sahih oleh Al-Albani).
Semoga bermanfaat ya..

Tata Cara Puasa Sunnah Senin Kamis

Tata Cara Puasa Sunnah Senin Kamis : Puasa hari senin dan kamis adalah termasuk amalan sunnah yang di lakukan Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam-. banyak keutamaan-keutamaan yang terdapat di dalamnya seperti puasa-puasa sunnah yang lainnya. khususnya senin adalah hari dimana Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- di lahirkan dan di turunkan wahyu kepadanya. dan juga bahwa hari senin dan kamis adalah hari dimana amalan seorang hamba di angkat.

- Tata Cara Puasa Senin Kamis

Banyak dari kita menyangka bahwa puasa senin dan kamis harus di lakukan pada dua-duanya. sehingga ketika telah berpuasa senin dan tertinggal pada hari kamisnya, berpikiran bahwa puasanya tidak sah.

Cara puasa senin kamis adalah seperti puasa sunnah pada umumnya. dan yang perlu di ketahui adalah bahwa hari senin adalah amalan tersendiri, dan hari kamis adalah amalan tersendiri. Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda :

تعرض الأعمال يوم الاثنين والخميس، فأحب أن يعرض عملي وأنا صائم

Artinya : "(pahala) Amalan di angkat pada hari senin dan kamis, maka aku menyukai jika ketika amalanku di angkat aku dalam keadaan berpuasa." (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dan ketika di tanya tentang puasa senin dan kamis, Beliau juga bersabda khususnya pada hari senin :

ذاك يوم وُلدتُ فيه وأُنزلَ عليَّ فيه

Artinya : "Hari itu aku di lahirkan dan pada hari itu (pula) wahyu di turunkan kepadaku." (HR Muslim)

Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- tidak mensyaratkan bahwa harus di lakukan pada senin dan kamis dan tidak boleh melewatkan salah satu hari tersebut. akan tetapi senin adalah amalan tersendiri dan kamis pun begitu, karena beliau mengatakan bahwa (pahala) amalan di angkat pada hari senin dan kamis.

- Niat Puasa Senin dan Kamis

Adapun niat adalah niat hendak puasa senin atau kamis. dan niat di lakukan sebelum fajar hari senin atau

Tak Lebih Berharga dari Sehelai Sayap Nyamuk!

Tak Lebih Berharga dari Sehelai Sayap Nyamuk :
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ ، وَجَنَّةُ الكَافِرِ

Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir” (HR. Muslim)

Dari Amr bin ‘Auf radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 فَوالله مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلكِنِّي أخْشَى أنْ تُبْسَط الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أهْلَكَتْهُمْ

Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun berlomba-lomba dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa sebagaimana mereka dibinasakan olehnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Ka’ab bin ‘Iyadh radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً ، وفِتْنَةُ أُمَّتِي : المَالُ

Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, sedangkan fitnah ummatku adalah harta” (HR. Tirmidzi, dia berkata: ‘hadits hasan sahih’)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ ؛ فَهُوَ أجْدَرُ أنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ الله عَلَيْكُمْ

Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian -dalam hal dunia- dan janganlah kalian melihat orang yang lebih di atasnya. Karena sesungguhnya hal itu akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat yang Allah berikan kepada kalian” (HR. Muslim)

Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَجَباً لأمْرِ المُؤمنِ إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خيرٌ ولَيسَ ذلِكَ لأَحَدٍ إلاَّ للمُؤْمِن : إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكانَ خَيراً لَهُ ، وإنْ أصَابَتْهُ ضرَاءُ صَبَرَ فَكانَ خَيْراً لَهُ

Sangat mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak didapatkan kecuali pada diri orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia bersyukur. Dan apabila dia mendapatkan kesusahan maka dia akan bersabar” (HR. Muslim)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اللَّهُمَّ لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْشَ الآخِرَةِ

Ya Allah tidak ada kehidupan yang sejati selain kehidupan akhirat” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإنَّ الله تَعَالَى مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ

Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah ta’ala menyerahkannya kepada kalian untuk diurusi kemudian Allah ingin melihat bagaimana sikap kalian terhadapnya. Maka berhati-hatilah dari fitnah dunia dan wanita” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُنْ في الدُّنْيَا كَأنَّكَ غَرِيبٌ ، أَو عَابِرُ سَبيلٍ

Jadilah kamu di dunia seperti halnya orang asing atau orang yang sekedar numpang lewat/musafir” (HR. Bukhari)

Dari Sahl bin Sa’id as-Sa’idi radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata: ‘hadits hasan sahih’)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا لِي وَلِلدُّنْيَا ؟ مَا أَنَا في الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Ada apa antara aku dengan dunia ini? Tidaklah aku berada di dunia ini kecuali bagaikan seorang pengendara/penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebuah pohon. Kemudian dia beristirahat sejenak di sana lalu meninggalkannya” (HR. Tirmidzi, dia berkata: ‘hadits hasan sahih’)

Sumber : http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/tak-lebih-berharga-dari-sehelai-sayap-nyamuk.html