Istriku, Maafkan Aku Yang Belum Bisa Mengajarimu


Seorang penyair pernah berkata "Ibu adalah sebuah madrasah yang jika kamu menyiapkannya, berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya." Aku juga mendengar para 'alim berkata "Ibu adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya". Tapi terkadang aku lupa bahwa ayah adalah kepala madrasahnya, yang lebih menentukan baik dan buruknya madrasah tersebut.

Setiap suami dan ayah juga layaknya seperti nahkoda yang membawa kapal berlayar mengarungi lautan luas. Nahkoda menentukan kemana arah tujuan kapal akan berlayar. Istilah seorang saudara, suami adalah pimpinan suatu proyek, apapun yang terjadi dalam proyek tersebut, pimpinan proyek lah yang dimintai pertanggungjawaban.

Sejenak aku merenungi keluarga kami saat ini. Pernah suatu kali dulu, istriku bercerita bahwa saat sebelum menikah dahulu banyak ibadah ketaatan yang mampu ia lakukan dengan bersemangat, namun setelah menikah ibadah yang dahulu terasa dimudahkan saat ini terasa menjadi suatu yang terasa sulit.

Aku memang jarang sekali menasehati untuk bersemangat dalam ibadah. Sulit rasanya lisan ini mengeluarkan kata-kata motivasi dan mengingatkan akan Allah dengan kata-kata. Aku merasa malu mengatakannya karena diri ini belum tampil layaknya orang shalih yang pantas ditiru di hadapan istri. 

Maafkan aku istriku, semoga Allah memberiku taufiq agar lebih baik dalam mengajarimu.
Uhibbuki fillah
banner
Previous Post
Next Post

0 comments: