Satu Kebaikan Yang Mengundang Kebaikan Lainnya


Beberapa waktu yang lalu, video iklan dari Yayasan Aksi Cepat Tanggap muncul di beranda fb ku. Video berisi cuplikan penderitaan yang dialami penduduk Suriah yang sedang di bombardir dari serangan sekutu pemerintah dan Russia, juga dari serangan-serangan banyak kepentingan negara lainnya.

Tak terbayangkan jika diri ini berada pada posisi mereka, apakah masih bisa tegar menjalani hidup atau malah sudah putus harapan hidup. Melihat seorang ayah sedang menggendong anaknya berumur kira-kira dua tahunan yang meninggal dan berdarah-darah terkena serpihan bom, memaksaku membayangkan seolah-olah akulah seorang ayah itu dan anakku Ismail lah anak yang terluka ini. ya Allah...

Aku berfikir apa lagi yang bisa kulakukan sebagai bukti kepedulianku kepada saudara-saudaraku yang sedang terzalimi disana.Sungguh mereka punya hak atas diri ini untuk ditolong sebagai sesama muslim. Bahkan keadaan ini sekaligus adalah "umpan" dari Allah untuk menguji ukhuwah dalam hati muslim, seberapa besar kah ia saat ini.

Juga kesempatan untuk beramal shalih berharap juga Allah akan menolong diri ini ketika kesulitan yang sangat di akhirat nanti. Karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda:
“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allâh akan mudahkan baginya jalan menuju Surga...." (H.RMuslim no. 2699)
dan Firman Allah:
"...barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al Maidah: 32).

Husnul Khaatimah - Kematian Yang Baik - Amalan Hati


Meninggal dengan Husnul Khaatimah adalah cita-cita semua muslim. Karena husnul khaatimah atau meninggal dalam kebaikan akan menentukan nasib kehidupan di alam barzakh dan di akhirat kelak. Yang husnul khatimah akan mendapati kebahagiaan, dan yang suu'ul khaatimah akan mendapati kesengsaraan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya”. [HR Bukhari]

Kita tidak tahu bagaimana keadaan kita ketika akan meninggal kelak. Semoga Allah mengasihani kita dengan memberi husnul khatimah. Rasulullah pernah bercerita dalam sebuah hadits tentang orang yang dalam kehidupan sehari-harinya penuh dengan amalan ahli neraka hingga jaraknya dengan neraka tinggal sehasta, namun di akhir hidupnya ia melakukan amal shalih sehingga ia akhirnya masuk surga. dan ada juga yang dalam kehidupan sehari-harinya melakukan amal shalih, namun di akhir hidup saat menjelang kematiannya ia beramal dengan amalan ahli neraka maka ia akhirnya masuk neraka.

Ah, begitu butuhnya kita dengan belas kasih Allah saat-saat menjelang kematian, agar Allah memudahkan kita melakukan amal shalih. Yang aku pernah dengar penjelasan ulama, mereka yang sehari-hari beramal baik ternyata akhir hidupnya beramal buruk dan masuk neraka adalah mereka yang amalannya tidak ikhlas karena Allah, tidak membekas dihatinya dan mereka bermaksiat ketika bersendirian.

Alangkah besarnya pengaruh apa yang ada didalam hati.

Terkisah juga, sahabat nabi yang ketika hidupnya sudah diceritakan nabi bahwa ia akan menjadi penghuni surga. Para sahabat lainnya pun penasaran dengan amalan sahabat yang dijamin surga ini. Salah seorang mereka menginap dirumahnya selama 3 hari, namun ia tidak menemukan amalan-amalan spesial melebihi amalan yang biasa dilakukan sahabat nabi lainnya. Hingga ketika ia akan pulang, sahabat yang dijamin surga ini memberitahu rahasianya... "aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.’", ungkapnya. Masya Allah... Amalan Hati.


Benarkah Kita Butuh Rasa Sakit?

Sepuluh tahun aku bergelut di dunia bisnis online, aku merasakan di 8 tahun awal adalah masa-masa mudahnya dalam menghasilkan uang dari internet. Dengan izin dan rezeki dari Allah, dari bisnis online aku pertama kali membeli sepeda motor secara cash saat masih kuliah. Dengan rezeki dan izin dari Allah, dari bisnis online aku beranikan diri untuk menikah, untuk membangun rumah kecil kami dan hingga saat ini. Alhamdulillah.

Namun di dua tahun terakhir ini aku merasa kemudahan itu menjadi sulit. Aku sadar sepenuhnya hal itu terjadi karena kelalaianku dalam mengatur aset digitalku. Juga karena semakin berubah dan berkembangnya dunia bisnis online.

Lama terbuai dengan kemudahan di zona nyaman, belakangan baru aku tersadar bahwa bertahun-tahun di zona nyaman membuatku tak berkembang bahkan semakin lemah.

Sekarang aku mendapat sedikit kesulitan dan akupun baru tahu nikmatnya kemudahan yang dahulu. Betul yang dikatakan ahli hikmah, engkau harus melihat mendung yang kelam untuk bisa melihat pelangi kemudian.

Kesulitan akan menempa jiwa agar tidak menjadi jiwa yang lemah. Mungkin ibarat olahraga terhadap tubuh, ibarat latihan untuk para atlit. Dengan banyaknya cobaan/kesulitan yang berhasil dilalui akan membuat mental dan jiwa semakin kuat. Tidak adanya cobaan akan membuat jiwa lemah.

Bahkan untuk mendapatkan keindahan di akhirat, engkau juga harus mau menerima cobaan dan tantangan di dunia ini. Semakin soleh dirimu maka cobaan akan semakin berat, bukankah cobaan yang paling berat itu ada pada para Nabi dan Rasul?
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Sa’d bin Abî Waqqâsh Radhiyallahu anhu :
“Ya Rasûlullâh! Siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya. [HR. at-Tirmidzi no. 2398].

Untuk melihat keindahan di akhirat, engkau harus mau menerima kesulitan dalam melakukan ketaatan di dunia. Engkau harus melatih jiwa untuk taat. Dan lari dari kesulitan iadah didunia artinya membawa diri kepada kegelapan di akhirat.

Bahkan hidayah Allah salah satunya adalah milik mereka yang mau melatih jiwanya untuk taat.
Allah berfirman :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan”. [QS al-‘Ankabuut: 69].

Sungguh kabar gembira, kesulitan tidak akan selamanya, karena hidup di dunia pun tak selamanya. Bahkan dalam setiap kesulitan sudah disediakan kemudahan.
Firman Allah:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)

Saling berlomba dalam meninggikan status sosial



Ketika aku membuka layar handphone dan membuka aplikasi facebook, sering aku terlalu lama dan keasyikan membaca status-status yang berseliweran di beranda. Beragam bacaan dari beragam status facebook setiap orang yang kuikuti bermunculan... semakin lama tampak semakin menarik, namun aku tidak boleh terlalu lama dan terlalu ingin kepo membaca status semua orang, yang aku rasa tidak banyak manfaatnya disana.

Tanpa mengaanggap remeh tulisan-tulisan kebaikan yang ada di facebook, aku merasa banyak sekali diantara kami di facebook yang sering ingin terlihat sebagai orang yang hebat dan dipuji. Baik dengan tulisan-tulisan, foto-foto yang dipajang, video-video yang di upload dan lainnya. Seolah-olah ingin menunjukkan diri sebagai orang yang sedang berbahagia, orang yang hebat dengan pencapaian nya.

Aku bukanlah sedang mengatakan oranglain, bahkan diri ini sering terjebak juga didalamnya. Aku melihat kami sedang berlomba-lomba meninggikan status sosial masing-masing di media sosial. Aku khawatir motivasinya adalah karena kesombongan dan berbangga diri, padahal seluruh pujian seharusnya hanyalah milik Allah.

Tanpa sadar kami telah merampas selendang kesombongan yang harusnya hanya milik Allah,

Kesombongan adl pakaian-Ku, & kebesaran adl selendang-Ku, siapa saja yg mencabut salah satu dari keduanya dari-Ku, maka akan Aku lemparkan ia ke neraka Jahannam. [HR. ibnumajah No.4164].

Kalau memang benar ternyata demikian, sungguh kami telah terperdaya oleh syaitan dalam bermedia sosial. Kami telah terlena dan tanpa sadar sedang masuk kedalam perangkap. 

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)

Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong).“ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).

Semoga Allah menyelamatkan kami.
Semoga Allah memudahkan kami dalam memanfaatkan media sosial untuk saling nasehat-menasehati, menebar syiar Islam, menebar kebaikan dan menebar manfaat dengan menjangkau lebih banyak orang dengan lebih mudah...
Dan yang terpenting bermanfaat untuk bekal amal shalih kami menuju akhirat.

Aamiin.

Bacaan: https://muslim.or.id/3536-jauhi-sikap-sombong.html

Tak Beramal, namun mendapat pahala orang yang Beramal


Rasulullah pernah bersabda,
"Tiada seorangpun yang meiliki kebiasaan sholat malam, lalu suatu kali ia tertidur (sehingga tidak mengerjakannya), melainkan Allah akan mencatat untuknya pahala shalat malam (seperti biasa) dan tidurnya itu sebagai sedekah dari Allah atasnya." (H.R. an-Nasa'i)

itulah maksudku tentang tak beramal namun mendapat pahala beramal. Ternyata rahasia mereka adalah mereka sudah terbiasa melakukan amalan tersebut, sehingga ketika satu saat mereka sedang tidak mampu lagi melakukan amal kebiasaan itu, Allah tetap mengasihi mereka dan memberikan pahala amal tersebut.

Fikiranku terbang seketika teringat  kepada pak kaum (sebutan untuk orang yang mengurusi Masjid dan kegiatannya di kampung orangtuaku) yang baru saja meninggal dunia. Aku mengenalnya sebagai orang yang menjaga shalat lima waktunya di Masjid walaupun kondisi masjid di kampung sunyi. Pandanganku terhadap beliau adalah orang yang rendah hati dan perhatiannya besar untuk agama. Mamakku bercerita bahwa istri beliau bercerita ketika di perwiritan ibu-ibu di kampung, bahwa beliau sudah meninggalkan wasiat untuk anak-anak nya dan istrinya UNTUK MENJAGA SHALAT.

Masya Allah,,, Wasiat yang sangat mulia, mengikuti wasiat yang pernah diberikan Lukman untuk anaknya yang Allah ceritakan dalam Al-Qur'an :

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS. Lukman: 17).

Kabar yang aku dengar dari bapak-bapak di Masjid dan bapakku ketika aku pulang kampung adalah bahwa beliau meninggal setelah sakit 3 bulan lebih. Sakit yang aku sendiri malu untuk menceritakannya. Masya Allah... 3 bulan lebih beliau tidak mampu melakukan amal kebaikan seperti biasanya. Aku berharap (dan sepertinya benar) bahwa beliau semasa sehatnya memiliki amal-amal kebiasaan yang dijaganya, yang dengannya semoga Allah tetap menuliskan catatan kebaikan untuk beliau.

Beruntunglah kita jika ketika di masa sehat ini kita memiliki amal-amal kebaikan yang sudah menjadi rutinitas dan kebiasaan kita, Istiqamah dalam melakukannya walaupun sedikit, agar kita memiliki sedikit kebanggaan ketika menghadapi waktu pertanggungjawaban di akhirat nanti.

Mungkin itulah salah satu hikmah dan maksud Rasulullah dahulu pernah berpesan untuk kita ummat beliau, "... Gunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu...."

 Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk membiasakan beberapa amalan shaleh sebagai kebiasaan sehari-hari di masa-masa sehat ini. Agar pahala amal trsebut tetap sampai kepada kita ketika suatu saat kita sedang sakit dan tak mampu melakukan amal kebiasaan itu, atau juga ketika kita terlupa dan tak ada kesempatan untuk melakukannya lagi.

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.” (HR. Bukhari, no. 2996)

*Referensi: - Majalah ar-Risalah
- https://rumaysho.com/14592-rahasia-walau-uzur-tetap-dapat-pahala.html


Kembalikan Waktuku...


Aku melihat bahwa waktu yang aku nikmati dan isi selama hampir 30 tahun umurku ini seperti sosok yang hanya tahu berjalan maju kedepan. Ia tak pernah tahu apa itu jalan mundur dan bagaimana caranya. Seluruh waktu yang sudah 'terlanjur' kuisi di masa lalu tak pernah bisa kuputar balik dan kukembalikan untuk diperbaiki, walau aku sangat ingin sekali untuk memperbaikinya agar tak terlalu memalukan ketika diperlihatkan kelak.


Sungguh jebakan yang sangat samar... Waktu-waktu yang ada begitu lembut melalaikan, sampai-sampai aku meremehkannya dan mengisinya begitu saja tanpa manfaat untuk dunia dan akhiratku.

Aku berdoa semoga waktu-waktu kedepan yang tersisa dari jatah waktuku bisa terisi dengan amal shalih dan kebaikan. Agar ketika waktuku telah habis, aku sudah memiliki tabungan dan bekal yang akan kubawa kepada Allah. Aku tak ingin kerugianku semakin hari semakin meluas bak awan berarak ketika akan hujan... Aku ingin hati ini tenang ketika waktu telah habis dengan menggenggam kebaikan seperti samudera dan Allah menerimanya.

Allah ta’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).